Siomay Kriuk Terjual 1.000 Mangkok/ hari

Posted in BISNIS & PELUANG USAHA on Februari 10, 2009 by rahmatblogs

 

siomayDalam kehidupan sehari-hari kita seringkali menjumpai makanan siomay. Kalau tidak dijajakan oleh abang-abang yang berkeliling dengan sepeda pancal, mungkin akan dijumpai di gerobak kaki lima.

 

Masih sangat jarang, kita menjumpai counter siomay di tempat perbelanjaan modern. Dengan sendirinya, siomay berkesan sebagai makanan rakyat kelas menengah ke bawah. Sejatinya tidak demikian. Masyarakat kelas menengah ke atas pun juga banyak yang menggemari makanan berbahan baku tepung ikan tersebut.

 

 

Siomay sudah banyak dijumpai dalam keseharian kita. Namun belum banyak pengusaha yang mencoba mengangkat derajat siomay.
Sayangnya, belum banyak pengusaha yang mencoba untuk mengangkat derajat siomay sehingga bisa hadir di tempat perbelanjaan modern.

 

Adalah Ibnu Kholid yang berusaha membuat terobosan untuk mengangkat derajat siomay. Dengan mengusung nama Somay Mangkok Kriuk-kriuk, Ibnu mencoba membidik konsumen kelas menengah ke atas.

Untuk bisa membidik segmen ini, tentu saja ia harus melakukan beberapa perubahan mendasar. Yang pertama-tama, adalah memperbaiki cita rasa siomay. Kedua, memperbaiki cara penyajiannya.

 

Pada umumnya, siomay disajikan di atas piring kecil atau dibungkus plastik jika konsumennya ingin membawa pulang. Namun, Somay Mangkok Kriuk-kriuk disajikan di dalam mangkuk yang terbuat dari pangsit, sehingga bukan hanya siomay saja yang bisa dilahap, tetapi mangkoknya pun terasa lezat.

 

Untuk konsumen yang ingin membawa pulang, siomay ditaruh di dalam mangkok kemudian dimasukkan ke dalam bungkus kertas yang apik.

Meski siomay ini ditujukan untuk kelas menengah ke atas, bukan berarti investor harus merogoh kocek dalam-dalam. Karena dalam pola kerjasama ini Ibnu hanya investasi Rp 2,7 juta bagi calon mitranya.

 

Modal itu sudah termasuk di dalamnya semua alat perlengkapan, counter, terpal, dan gembok. “Overhead siomay kecil, tidak sebagaimana berjualan mie. Bahkan minyak tanah satu liter pun bisa dipakai untuk satu minggu,” ujar Ibnu yang mengaku memiliki trik tersendiri untuk berhemat.

 

Ibnu mengaku mempunyai alasan tersendiri untuk mengembangkan bisnis siomay. Selain karena modal dan overheadnya kecil, menjual siomay risikonya juga sangat kecil karena makanan ini bisa bertahan sampai empat hari.

 

Pengembalian modal relatif singkat (antara tiga sampai empat bulan). “Makanan ini juga sudah sangat familiar di kalangan masyarakat dan pengelolaannya pun mudah karena kami sudah melakukan sistematisasi dan standarisasi,”lanjut Ibnu.

 

Lantaran itu semua, sudah banyak yang mengajukan diri sebagai mitra. Menurutnya, ada seorang pengusaha furniture di Pondok Bambu yang langsung mengambil lima counter. “Kalau tempatnya di mall, saya jamin bisa menjual 100 mangkok per hari,” tambahnya.

 

Tempat lain yang strategis adalah kolam renang, sekolah-sekolah favorit, rumah sakit, tempat hiburan, dan tempat-tempat wisata.

 

Bagi mitra yang ingin bergabung, tambah Ibnu, pihaknya akan tidak akan memungut royalty fee dan franchise fee. Pihaknya juga akan memberikan dukungan meliputi pasokan bahan baku, sistem operasional, pemasaran, rekrutmen dan pelatihan karyawan serta pemilihan lokasi. “Semua investasi sepenuhnya milik Anda,” janji Ibnu.

 

Jika perkembangannya nanti sesuai dengan rencana, di wilayah akan ada master franchise yang berhak untuk menerapkan pola kemitraan KSO di wilayah yang bersangkutan. 

(Rahmat Saepulloh)

Iklan

Mencoba Rezeki Kue Tar Palsu di Hari Valentine

Posted in BISNIS & PELUANG USAHA on Februari 10, 2009 by rahmatblogs

 

kue-tar-okehUlang tahun merupakan momen yang sangat berkesan. Perayaan itu biasanya tak pernah jauh dari kue ulang tahun yang biasanya menggunakan kue tar. Nah, Gita Paramita yang melihat kebutuhan masyarakat akan kue tar ini sebagai salah satu peluang bisnis.


Kue tar buatan Gita hadir lengkap dengan hiasan lilin, stroberi, irisan jeruk, blueberi, irisan kenari, juga rum yang cantik. Tak ketinggalan berbagai ornamen pelengkap seperti boneka imut dan pernik lain turut meramaikan dan mempercantik kue tar Gita.

Meskipun penampilannya tampak menggoda, jangan pernah sesekali mencoba memakannya. Soalnya, kue tar Gita ini terbuat dari kain flanel. Dan tentu saja, kue itu sama sekali bukan udapan yang lezat.

Meskipun bukan kue tar asli, penampilan tar bikinan Gita ini memang menggiurkan. Maklum, tar palsu itu sangat mirip dengan tar asli. Bukan itu saja. “Kue ini juga bisa dibuka, dan di dalamnya bisa untuk menyimpan berbagai macam aksesori ataupun pernak-pernik,” terang Gita. Jadi, selain untuk pajangan, kue palsu itu bisa mempunyai fungsi yang lain.

Gita menawarkan tar paling imut mulai dengan ukuran 5 cm x 5 cm dengan harga Rp 16.000 per buah. Tar mungil yang lebih akrab dengan sebutan mini cake ini hanya yang berbentuk kotak yang bisa dibuka.

Selain berbentuk kotak, Anda tentunya bisa memilih bentuk yang lain sesuai selera. Misalnya tar berbentuk hati. Ukurannya sekitar 8 cm x 10 cm. Untuk ukuran ini, Gita mematok harga Rp 35.000 per buah. Sedangkan ukuran lain adalah kue tar bundar dengan diameter 15 cm. Harganya Rp 50.000 per buah. Gita juga bisa membuatkan tar susun dengan harga mulai Rp 80.000 per buah. Anda pun bisa menggunakan semua macam tar palsu itu untuk menyimpan barang-barang mungil di rumah.

Bisa minta desain

Selain ukuran, tampaknya Gita tak mempermasalahkan berapa banyak hiasan yang nantinya dipasang di tar. “Pembeli juga bisa memesan tar sesuai dengan bentuk yang diinginkan,” ujarnya. Khusus untuk tar susun, Gita justru mengharuskan si pemesan menyertakan desain. “Ini agar bentuknya orisinal dan pemesan juga akan lebih puas atas hasilnya,” imbuhnya.

Karena tar buatan Gita unik dan menarik, saat ini pemasaran tar-nya sudah sampai ke Malang, Kalimantan, dan Medan. “Tapi kebanyakan pesanan datang dari Jakarta dan Surabaya,” ujar gadis kelahiran 1987 ini.

Keberhasilan Gita ini adalah buah dari kerja keras dan keuletannya sejak duduk di bangku SMA. Pada awalnya, ia senang membuat beragam hiasan berbentuk binatang dari kain flanel. “Semua itu saya pelajari melalui buku,” ungkapnya.

Kecintaannya kepada kain flanel pun semakin terlihat. “Saya mulai cari-cari di internet mengenai kerajinan ini. Kemudian saya terpikir membuat hiasan berbentuk tar dari kain flanel ini,” imbuhnya.

Untuk usaha membuat tar dari kain flanel ini, Gita menekuninya sejak awal 2007 lalu. Saat itu, semua pesanan masih ia tangani sendiri. “Sekarang saya mulai kewalahan. Soalnya, saya masih harus kuliah dan magang kerja,” ungkapnya.

Makanya, Gita dibantu seorang karyawan dalam pengerjaan pesanan tar ini. “Tapi dia khusus memasang kain diseluruh bagian kue saja. Untuk merangkai dan memasang pernak-perniknya, saya sendiri yang memasangnya,” imbuhnya.

Sekarang ini, dalam setiap bulan Gita bisa memenuhi pesanan minimal 20 tar berbagai ukuran. “Rata-rata mereka memesan yang harganya Rp 50.000,” katanya. Nah Anda bisa hitung sendiri, berapa omset yang kantungi dari hobinya kue hias ini. Menurutnya, jumlah pesanan sebanyak itu hanya untuk bulan-bulan biasa. Pada bulan tertentu, pesanan bisa melonjak terutama pada Februari menjelang Valentine Day atau Hari Kasih Sayang.

Untuk bahan baku, Gita mengaku tak pernah kesulitan mendapatkannya. “Kain flanel saya beli di Pasar Pagi, Jakarta. Bagian dalamnya cukup diisi kotak hadiah atau kotak kue apa pun,” ungkapnya.

Kain flanel itu ia beli dengan harga Rp 15.000 per meter. “Ada juga yang dijual per potong dengan ukuran 20 cm x 15 cm seharga Rp 5.000,” kata Gita. Dari kain flanel potongan itu, Gita bisa membuat empat hingga lima penghias kue tar palsu itu. 

(Rahmat Saepulloh)

Bisnis Franchise Cireng Tembus 36 juta/ bulan

Posted in BISNIS & PELUANG USAHA on Februari 9, 2009 by rahmatblogs

 

Mungkin Anda sudah tidak asing lagi dengan sajian makanan khas Bandung yang terbuat dari aci goreng (cireng-red). Namum makanan yang terkenal murah ini,cireng-2 sekarang telah mengalami sentuhan inovasi luar biasa.

Adalah Ani Rohaeni (48) ibu rumah tangga warga Jl Cemara Bandung ini telah berhasil membuat sebuah inovasi cireng. Hasil inovesi dan coba-coba itu, ternyata laris manis dan sukses di pasaran.

Berawal dari hobinya yang suka jajan cireng, ia membuat cireng yang lain dari biasanya baik dari bentuk, isi dan citra rasanya yang khas sehingga mengguggah selera para penikmat jajanan ini. Ibu dua anak ini berhasil meraup hasil yang manis dari usahanya yang ia dirikan sejak 1992 lalu. Ia mengenalkan produknya dengan nama The Cireng Rampat yang sekarang sudah menyebar luas di wilayah kota kembang ini.

Kenapa cireng ini bisa dibilang penuh inovasi? Tentu saja jika dilihat dari bentuknya dan rasa juga berbeda sebab lebih besar dan dijamin lebih enak , Isinya pun jangan ditanya, ada yang rasa manis, pedes dan asin.Menurutnya ada delapan pilihan rasa; daging sapi, sosis, bakso, kacang, kornet, keju, rasa ayam, dan oncom. Harga cireng buatannya ini dijual sesuai dengan kocek para “penggila” jajanan Bandung yakni Rp. 1.200 sampai Rp. 2.000. Sedangkan cirri khasnya sendiri ialah ia selalu menggunakan adonan yang berkualitas baik dan yang paling utama ada rasa pedasnya yang khas sehingga menimbulkan sensasi di mulut. Di samping itu cireng buatanya lebih crispy karena digoreng lebih kering.

Sementara para penggemar cireng ini bukan hanya di Bandung saja bahkan selebritis kenamaan sekelas Tukul Arwana saat mengisi acara di BSM beberapa waktu lalu sempat mencicipi Cireng Rampat ini. Untuk menghindari peniruan ia mendaftarkan produknya itu, guna mendapatkan hak paten. Walhasil produknya telah dipatenkan dengan Produk Ani Rohaeni.

Dikembangkan secara franchise

Keberhasilnya dalam inovasi cireng ini terbukti bahwa franchise bukan hanya milik produk makanan cepat saji saja, namum cireng ini turut laris menjadi franchise. Bisnis panganan ini kini banyak gerai atau tempat yang menjual cireng modern.

Manajer Pemasaran The Cireng Rampat Sulistiyanto mengatakan, gerai franchise cireng, sudah tersebar sebanyak 51 di seluruh kota Bandung bahkan sampai merambah Bogor, Garut, sukabumi, dan Banjaran yang masing-masing kotanya terdapat 10 gerai.

Setelah dilakukan sistem franchise ternyata sambutannya lumayan bagus oleh warga Bandung dengan bayaknya peminat yang ingin membuka usaha tersebut. Untuk membukafranchise ini cukup menyetorkan uang Rp. 3,5 juta langsung bisa berjualan, sebab semuanya sudah disediakan. Sedangkan untuk luar kota , jumlah uang invesrasi yang harus disetorkan Rp. 5 sampai Rp. 7 juta.

Mengenai omsetnya per hari lanjutnya, rata-rata satu gerainya bisa menjual antara 3.00 sampai 1.000 buah cireng. Maka omzet penjualan pun bisa mencapai Rp. 36 juta setipa bulannya

Dari pantauan karir-up di lapangan, bisnis ini pun bukan hanya dilakukan oleh kalangan pengusaha saja. Salah satunya, kalau Anda melalui Mesjid Salman ITB, nampak beberapa Mahasiswi sedang menjual cireng. Ada juga mahasiswa yang menjual cireng bersama ibu yang lanjut usia. Ternyata ada kisah di balik cireng dan mahasiswa ini.

Keberadaannya bukan tanpa alasan. Mereka ada hubungannya dengan awal penjualan Cireng Premium ini. Anna mahasiswa (pedagang cireng red) mengatakan, cireng ini merupakan inovasi seorang mahasiswa angkatan 2003. Karena kalau dijual sendiri sulit dimonitor, maka penjualan cireng ini dititipkan ke si ibu penjual cireng sekarang. Ibu ini dipilih karena ia tidak mencari kesempatan menjual dagangannya di tengah bantuan yang datang dari orang lain. Selain keebaikanya dan keterbukaannya, tidak seperti pedagang lainnya. Jadilah, sang ibu mendapat kepercayaan untuk menjajakan cireng premium ini. Singkat kata, Anna dan teman-temannya berhasil mengangkat kehidupan ekonomi sang ibu lewat cireng ini.

Mengenai penamaan Cireng Premium ini Anna menjelaskan karena harga yang disandangnya cukup mahal, yakni Rp 1.000 per cireng. Bandingkan dengan Rp 333,33 yang biasa dijual tukang gorengan.

Alasan harganya premium menurutnya karena isinya lain dari biasanya, diantaranya keju, ayam pedas, kornet pedas, kornet Tidak pedas, dan sosis pedas. Bentuknya pun bervariasi. Ada segitiga, bulan sabit, bundar, bahkan shuriken. Sepertinya, bentuk tersebut digunakan penjual cireng untuk mengenali jeroan cireng. Rasanya pun Cukup memberikan sensasi, walaupun cireng tetap cireng meski dibalut bahan lain. Namun jangan salah, dari hasil observasi, cukup banyak penggemar cireng ini. Bahkan penikmat cireng ini seringkali datang berkelompok untuk menikmatinya di Taman Ganesha. Artinya, rasa Cireng Premium ini patut diperhitungkan.

Menurut Adi (28) penggemar cireng mengatakan, apa yang dilakukan Anna dan teman-temannya merupakan salah satu solusi yang tepat dalam menangani jumlah pengemis yang semakin membengkak di Bandung ini. Dalam peribahasa, dari pada memberi para pengemis “ikan”, lebih baik memberi “kail” yang dapat digunakan untuk memancing “ikan”. Saya angkat topi untuk mereka! Jadi kapan anda akan memulai berinovasi ?

(Rahmat Saepulloh)

Hello world!

Posted in Uncategorized on Februari 9, 2009 by rahmatblogs

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!